Loading...

Jejak Panjang Kerajinan Tembaga Cepogo: Dari Zaman Kerajaan Hingga Mendunia

History

Di lereng Gunung Merapi dan Merbabu, Desa Cepogo di Boyolali menyimpan sebuah warisan budaya yang telah berusia ratusan tahun – kerajinan tembaga Tumang. Kisahnya bermula dari zaman Kerajaan Mataram Islam, ketika Ki Ageng Rogosasi, putra Amangkurat I yang diasingkan dari keraton, mendirikan padepokan di Bukit Gunungsari pada abad ke-17. Inilah cikal bakal lahirnya Dusun Tumang sebagai pusat kerajinan logam.

Kehadiran empat abdi dalem keraton yang menemani Ki Ageng Rogosasi menjadi titik penting dalam sejarah kerajinan tembaga Tumang. Empu Supondriyo, ahli pembuat keris dan senjata, meletakkan dasar-dasar pengolahan logam. Empu Yadhi mengkhususkan diri pada pembuatan peralatan rumah tangga, sementara Empu Bendrek Kemasan menguasai seni pembuatan perhiasan emas. Bersama Nyai Embo Tebu Ireng yang mengurus administrasi, mereka membangun fondasi yang kuat bagi perkembangan kerajinan logam di Tumang.

Pada masa-masa awal, kerajinan tembaga Tumang terutama melayani kebutuhan keraton. Mereka memproduksi berbagai perlengkapan upacara kerajaan, peralatan rumah tangga bangsawan, dan senjata tradisional. Hasil karya mereka bahkan dipamerkan di Kota Gede dekat Istana Kartasura, menjadi alat diplomasi keraton dengan bangsa asing. Jejak kejayaan ini masih dapat dilacak dalam berbagai naskah kuno dan cerita turun-temurun.

Memasuki abad ke-19, saat Perang Diponegoro berkecamuk, Tumang diduga kembali berperan dalam memproduksi senjata untuk mendukung perjuangan. Meskipun bukti tertulis terbatas, cerita lisan masyarakat setempat kuat mendukung peran Tumang dalam periode penting sejarah Indonesia ini.

Era keemasan berikutnya terjadi pada masa Pakubuwana X memimpin Keraton Surakarta. Raja yang dikenal sangat memperhatikan seni dan budaya ini memberikan dukungan besar terhadap pengembangan kerajinan tembaga Tumang. Bahkan, terdapat catatan bahwa beliau secara khusus memesan berbagai perlengkapan dari tembaga untuk keperluan keraton.

Titik balik penting terjadi pada tahun 1955, ketika Keraton Surakarta mengalami kebakaran hebat. Peristiwa ini justru menjadi momentum kebangkitan kerajinan tembaga Tumang, karena para pengrajin dilibatkan dalam proyek restorasi keraton. Pengalaman berharga ini tidak hanya mengasah keterampilan, tetapi juga memperluas wawasan para pengrajin dalam mengerjakan proyek-proyek berskala besar.

Memasuki era 1970-an, kerajinan tembaga Tumang mulai menunjukkan wajah baru. Dukungan dari Ibu Sospardjo Rustam, istri Gubernur Jawa Tengah saat itu, memberikan napas segar melalui berbagai program pelatihan dan pengembangan. Masa ini menandai transisi dari kerajinan tradisional menuju industri kreatif yang lebih modern.

Dewasa ini, kerajinan tembaga Tumang telah bertransformasi menjadi komoditas global. Sekitar 80% produksinya diekspor ke berbagai negara, termasuk Amerika Serikat, Jepang, Australia, dan negara-negara Eropa. Dari senjata kerajaan di masa lalu, kini produk Tumang menghiasi hotel-hotel mewah, bandara internasional, gedung perkantoran modern, dan berbagai bangunan iconic di seluruh dunia.

Yang tak kalah penting, karakteristik khas kerajinan Tumang tetap bertahan. Teknik tatahan dan babaran yang menghasilkan bunyi khas “tik-tik-tok” masih menjadi jiwa setiap karya yang dihasilkan. Proses handmade yang teliti dan penuh ketelatenan menjadi nilai tambah yang tidak tergantikan oleh mesin.

Dari padepokan Ki Ageng Rogosasi di abad ke-17 hingga menjadi sentra kerajinan tembaga ternama di abad ke-21, Tumang telah membuktikan ketangguhan sebuah warisan budaya. Setiap tetakan palu pada lempengan tembaga bukan hanya menghasilkan karya seni, tetapi juga melanjutkan napas sejarah yang telah berdenyup selama ratusan tahun.

Related Posts